CoReTan FurKoN

Be Yourself

pacaran masa kini VS “pacaran” dalam islam

A. Menyingkapi Pacaran Masa Kini

Pacaran adalah proses perkenalan antara dua insan manusia yang biasanya berada dalam tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan berkeluarga yang dikenal dengan pernikahan. Ada juga yang bilang bahwa pacaran adalah proses kita menjadi lebih dewasa dimana kita bisa berbagi pengalaman dan kasih sayang.

Seorang anak mulai mengenal pacaran ketika mereka mulai memasuki masa puber, dimana terjadi perubahan pola pikir dari anak-anak menuju dewasa yang disebabkan oleh perubahan hormon, yang disertai dengan berubahnya bentuk fisik si anak tersebut, biasanya terjadi ketika si anak mulai memasuki jenjang pendidikan ke SMP.

Gaya pacaran jaman sekarang juga sudah terbilang sangat bebas. Seolah-olah mereka mencontoh gaya pacaran orang luar yang tak mengenal etika. Ada beberapa pemahaman salah tentang pacaran anak muda jaman sekarang.
1. Gak punya pacar berarti gak laku dan gak gaul.
2. Belum dinamakan pacaran kalau belum bernah berciuman “mesra”.
3. Seorang cewek tidak benar-benar cinta kalau gak mau diajak “ML” oleh cowoknya.
Pemahaman itu seakan sudah menjadi kiblat bagi anak muda jaman sekarang dalam berpacaran. Banyak sekali kita temui anak sekolah mojok sepulang sekolah atau anak muda yang pacaran di tempat umum sambil berciuman mesra, kadang si cowok sambil meraba-raba tubuh si cewek. Kadang di tempat umum mereka merasa risih atau tidak aman dan nyaman karena tempatnya yang terlalu terbuka. Ibarat “nggak ada rotan akar pun jadi”, nggak ada tempat aman buat bermesraan, diwarnet pun sekarang juga menjadi tempat aman bagi mereka untuk bermesraan. Bahkan nggak cuman berciuman, mereka juga berani melakukan lebih dari itu.
Sekarang banyak sekali perempuan hamil diluar nikah, dan itupun sudah dianggap biasa di Indonesia ini yang notabene adalah negara dengan budaya timurnya yang terkenal beretika dan ber-Ketuhanan.

B. “Pacaran” dalam Islam

Pacaran dalam islam. Di dalam kitab kitab fiqih, tasawuf, hadis, bahkan didalam Al-Qur’an sekalipun itu saya belum temukan kata ” Pacaran ” Jikalau ada pacaran dengan alasan dibuat media dakwah atau sebagainya itu hanya akan menimbulkan banyak mudhorot ketimbang manfaat dan kebaikannya, seperti ditakutkan adanya fitnah, zina, dan sebagainya yang dapat memperkuat tali maksiat setan tuk dapat menjerat manusia hingga terseret ke jurang dan lembah dosa.  Karena apa? Zaman sekarang yang namanya pacaran itu sudah menjadi sesuatu yang tidak asing lagi dikalang anak anak muda dan sejawatnya bahkan sudah menjadi tradisi di era modern ini. Coba kalau kita lihat dari sisi lainnya, pacaran itu budaya luar ( western ), bukan budaya kita sebagai muslim dan muslimah. Tidak sepatutnya kita sebagai umat islam mengikuti mereka.

Dalam ayat Al-Qur’an diterangkan : ” Dan janagnlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk ( QS AL-Isra ayat 32 ) ” Nah, ayat tersebut sudah menjelaskan tuk menjauhi perbuatan zina. Mendekatkan saja sudah dilarang apalagi sampai melakukannya. Naudzubillah.

Istilah berpacaran itu sendiri bisa diartikan berbeda, kalaulah pacaran yang di maksudkan adalah kisah sejoli yang hanya sekedar untuk menjalin hubungan kasih dua sejoli, untuk fun dan menjurus pada kemaksiatan Berdua-duaan, bermesra-mesraan, bercumbu-cumbuan, dan semacamnya tidak boleh dilakukan oleh laki-laki dan perempuan (kecuali setelah menikah). Bahkan, Islam pun melarang segala jenis perbuatan yang bisa mendekatkan atau menggiring seseorang kepada zina, maka hal itu tidak diperbolehkan. Akan tetapi jikalau yang dimaksud pacaran disini sebagai instrument untuk mengenal calon pendamping lebih jauh (sudah di pastikan untuk menikahinya dan sudah dalam proses pelamaran), dengan catatan batasan-batasan  harus dijaga, maka boleh-boleh saja, karena dalam Islam itu sendiri ada istilah taaruf sebelum pernikahan. Jauh lebih bermanfaat dan objektif ketimbang kencan berduaan. Sebab kecenderungan pasangan yang sedang kencan adalah menampilkan sisi-sisi terbaiknya saja. Terbukti dengan mereka mengenakan pakaian yang terbaik, bermake-up, berparfum dan mencari tempat-tempat yang indah dalam kencan. Padahal nantinya dalam berumah tangga tidak lagi demikian kondisinya. Tujuan taaruf disini adalah sebatas untuk mengenal karakter calon pasangan kita, bukan untuk having fun together. Pergi berduaan tanpa ditemani mahram atau keluarga, seharusnya dihindari. Karena kita tidak tahu apa yang bisa dan mungkin terjadi. Ketentuan ini ahrus tetap berlaku meskipun sudah dalam proses menuju pernikahan. Selama pernikahan belum terlaksana si dia tetaplah non mahram. Batasan-batasan syariat juga harus tetap dijaga. Didalam sebuah hadist shohih Rasulullah saw. menegaskan  “Tidaklah diperkenankan bagi laki-laki dan perempuan untuk berkhalwat (berduaan), karena sesungguhnya ketiga dari mereka adalah syetan, kecuali adanya mahram.“(HR Ahmad dan Bukhari Muslim)

Mengenai pergaulan anak muda sekarang ini memang betul apa yang dikatakan orang orang bahwa posisi kita saat ini sangatlah sulit. Dalam artian kita hidup dengan manusia yang mempunyai prinsip dan pandangan hidup yang berbeda. Bahkan di kota-kota besar masyarakat kita bisa dikatakan memiliki kecendrungan hidup bebas. Terkadang dengan kondisi seperti itu, kita menghadapi sebuah dilema bagaimana menempatkan diri dalam dunia pergaulan agar kita dapat diterima oleh lingkungan, dan keyakinan atau syariat islam pun tetap terjaga. Namun sebetulnya kaidah yang paling tepat dalam pergaulan, khususnya dengan lawan jenis, adalah pandai-pandai menempatkan diri dan menjaga hati. Usahakanlah untuk mengerti situasi kapan kita harus serius dan kapan harus santai, “think before you act” sangatlah penting.

Meskipun demikian, menjaga pandangan adalah sangat dianjurkan, namun inti dari ajaran ini adalah bagaimana kita menjaga hati. Istilahnya, untuk apa kita menundukkan pandangan, jika hati tidak kita tundukkan???.

Semua tergantung dari niat kita. Contohnya, dalam suasana kantor atau organisasi di mana kita dituntut untuk berinteraksi dengan orang banyak, baik laki-laki atau perempuan, kita tentu saja diperbolehkan mengadakan contact dengan lawan jenis. Pada prinsipnya, di mana maksud kita untuk kebaikan dan batasan-batasan syar’i tetap dijaga, semua sah-sah saja. Islam tidaklah pernah bertujuan untuk mempersulit , tapi justru mempermudah hidup kita. Segala yang disyariatkan sudah barang tentu demi kebaikan ummat manusia…

Etika pergaulan dalam islam adalah, khususnya antara lelaki dan perempuan garis besarnya adalah sbb:

  1. Saling menjaga pandangan di antara laki-laki dan wanita, tidak boleh melihat aurat , tidak boleh memandang dengan nafsu dan tidak boleh melihat lawan jenis melebihi apa yang dibutuhkan. (An-Nur:30-31)
  2. Sang wanita wajib memakai pakaian yang sesuai dengan syari’at, yaitu pakaian yang menutupi seluruh tubuh selain wajah, telapak tangan dan kaki (An-Nur:31)
  3. Hendaknya bagi wanita untuk selalu menggunakan adab yang islami ketika bermu’amalah dengan lelaki, seperti:
    • Di waktu mengobrol hendaknya ia menjahui perkataan yang merayu dan menggoda (Al-Ahzab:32)
    • Di waktu berjalan hendaknya wanita sesuai dengan apa yang tertulis di surat (An-Nur:31 & Al-Qisos:25)
  4. Tidak diperbolehkan adanya pertemuan lelaki dan perempuan tanpa disertai dengan muhrim.

ahahahhah jadi melebar kemana mana
intinya sih “Pacaran itu boleh, halal, dan nikmat setelah pernikahan“.

disadur dari beberapa artikel di mbah google
Iklan

Mei 6, 2012 - Posted by | Coretan Iseng-Iseng

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: